Waktu itu kami sedang berbincang
ringan di balkon. Tetiba gadis itu bercerita.. Pernahku bermimpi, berkisar
tahun 2011 – 2012. Seorang pria mengejarku dibantu oleh seorang temannya, aku
ketakutan. Alasan takutku karena sepertinya pria itu akan menyatakan cintanya
kepadaku. Bukannya girang, aku malah
ketakutan. Mereka mengejarku menggunakan mobil, sementara aku berlari kencang
menuju rumah, sandalku terlepas karena kencangnya aku berlari. Ternyata mereka
mendapatiku di rumah. “Ini dia”, sahut temannya. Kami berdua di loteng rumahku.
Anehnya suasana loteng rumahku seperti hutan saga di kampusku. Sambil
terengah-engah kutanyakan,”Apa yang mau kau katakan?”. “Tunggu, mataharinya
belum terbit”, balasnya. Akupun terbangun. Pria itu tidak menyatakan apa yang
hendak dikatakannya karena menunggu sang matahari terbit.
Sekarang sudah 2018 dan aku masih
mengingat mimpi itu, bahkan kedua pria yang ada di mimpiku itu. Aku heran dan
ragu, apa memang diakah teman hidupku? Karena nyatanya aku tak pernah
berkomunikasi lagi dengannya. Lama sekali, sekarang jalan 3 tahun kami tidak
berkomunikasi. Meski demikian, setiap kali aku melihat matahari baru terbit,
aku akan teringat mimpi itu dan tersenyum. Siapakah dirimu, Pangeran? Apa di
waktu yang sama juga engkau memimpikan hal itu?
Telah
lama kutunggu
Kunanti-nantikan
kehadiranmu
Tapi
tak ada sedikitpun tanda kehadiranmu
Aku
merasa asaku melaju lambat
Perjalanan
hidupku semakin berat saja
Aku
merasa sendirian berjuang di sini
Aku
butuh kehadiranmu, aku ingin kau di sini
Tapi,
tak kunjung engkau datang
Memang
benar, tanpamu aku bisa menyelesaikannya
Tanpamu
aku masih bisa berjalan
Semua
masih bisa kulakukan memang, tapi
Semakin
lama semakin sakit saja semua rasa ini
Mengapa
tak kunjung datang?
Kuhela
nafas panjang, aku harus berpikir jernih
Kuharap
engkau akan datang di saat yang tepat
Jangan
terlambat, jangan
