Kamis, 06 September 2018

Merdeka


Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!

Pidato Bung Tomo sebelum rakyat Surabaya bertempur melawan tentara Inggris.

Saya terdiam mendengar suara pidato beliau. Sangat menggelegar, semangat dan beriman kepada Allah. Sekalipun saat itu Surabaya kalah, tapi sangat mengejutkan , tentara Inggris menaksir hanya butuh 3 hari menaklukkan Surabaya ternyata butuh 21 hari. Sekalipun saat itu Surabaya kalah, tapi akhirnya kurang lebih 4 tahun kemudian Indonesia seutuhnya merdeka. Penjajah yang beringas tak peduli akhirnya luluh. Saya teringat dengan nats yang menyatakan kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Membaca, menonton dan mendengar kembali kisah Indonesia membuat saya semakin kagum dan semangat bahwa Indonesia adalah negara yang berpengharapan. Semua kisah yang pernah dilalui tidak dilupakan. Indonesia mengingat.

Apa kau ingat, kawan? Masa sulit sebelum kemerdekaan nenek moyang kita perang, meraih kemerdekaan perang lagi, setelah merdeka harus perang juga. Sakit sekali, bukan?
Bahkan yang sangat menyedihkan adalah perang sesama bangsa Indonesia saat kejadian DI/TII, APRA, G30S/PKI.

Bukankah damai itu indah? Mengapa harus perang?
Dan saat ini kita sebagai warga negara sesungguhnya kita harus ambil peran mengisi masa-masa Indonesia ini. Isilah dengan hal berguna, bukan dengan hal negatif. Tebarkan energi positif. Siapapun diri kita, posisi, kedudukan, apapun itu tetap pegang 1, ‘PANCASILA DASAR NEGARA’, semboyan ‘BHINEKA TUNGGAL IKA’. Merdeka!!!

Senin, 20 Agustus 2018

AYO…. SEMUA ITU DARI KITA, UNTUK KITA, OLEH KITA


Sudah 2 minggu ini saya melihat para polisi sigap mengawasi lalu lintas agar tetap lancar dan berlangsung baik. Kegerakan mereka sungguh terbukti. Saya mengamati bahwa sepanjang jalan Kecamatan Medan Baru setiap pagi selalu ada polisi setiap 40-50 meter sepanjang jalan. Alhasil, kemacetan berkurang, bahkan orang-orang yang hobi mengendarai lawan arah pun nyaris tidak ada. Dalam hati saya berdecak kagum. Wahh…

Namun di tempat lain (Medan Amplas) saya melihat terjadi pemungutan liar. Saya pun sedih seketika. Kemudian, beberapa hari yang lalu ketika saya berada di bus terjadi kemacetan dikarenakan hujan deras baru saja terjadi. Banjir pun tak bisa dielakkan mengakibatkan jalan raya terlihat tenggelam air. Ada beberapa polisi mengatur para pengendara agar kemacetan tidak berlangsung lama. Saya melihat seorang polisi memberhentikan pengendara motor (pria) yang memang mempunyai kesalahan, seorang wanita yang diboncengnya tidak mengenakan helm. Segera si pria itu meminta wanita yang sedang menggendong tas memberikan tasnya. Saya bisa menerka apa yang akan dilakukannya.

Kemudian terlintas ide dalam pemikiran saya yaitu bukankah kitalah yang membuat mereka (polisi) melakukan pemungutan liar? Kita (masyarakat) juga berperan membuat para polisi KKN.
Saya pernah mendengar cerita dari seorang polisi mengenai pengalamannya ketika melakukan razia di jalan. Sungguh tidak tega bapak polisi itu menahan si ibu yang naik bettor dengan ketiga anaknya dan tidak seorang pun memakai helm bahkan surat-surat pun tidak ada yang lengkap. Apalagi si ibu mengatakan bahwa dia adalah seorang janda yang untuk makan sekali sehari pun sudah syukur. Si ibu minta tolong kepada pak polisi itu.
Akhirnya si ibu dibebaskan hanya dengan memberi uang rokok. Memang jika dibawa ke hukum yang harus dibayar ibu itu tidak sebanding dengan uang rokok. Tentunya lebih besar.
Bukankah ibu itu juga memengaruhi pak polisi untuk melakukan KKN?

Seandainya semua masyarakat taat aturan, tentunya tidak ada celah yang menggoda, bukan?
Apalagi ini merupakan kewajiban kita untuk melengkapi administrasi dan menggunakan alat pelindung diri ketika mengendarai kendaraan. Kita tidak bisa menuntut terus-menerus pemerintah untuk tegas, sementara kita sendiri pun tidak tegas. Kita sendiri pun masih sering menerobos lampu merah, masih sering tidak bayar pajak. Bukankah kita yang adalah masyarakat pemegang kekuasaan tertinggi. Ini terbukti dari pernyataan John Locke bahwa “Dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat”.

Maka dari itu, alangkah eloknya kita pun turut mendorong program pemerintah dengan cara melakukan kewajiban kita.

Senin, 02 Juli 2018

Kisah Seorang Gadis Penanti Matahari



          Waktu itu kami sedang berbincang ringan di balkon. Tetiba gadis itu bercerita.. Pernahku bermimpi, berkisar tahun 2011 – 2012. Seorang pria mengejarku dibantu oleh seorang temannya, aku ketakutan. Alasan takutku karena sepertinya pria itu akan menyatakan cintanya kepadaku. Bukannya girang, aku  malah ketakutan. Mereka mengejarku menggunakan mobil, sementara aku berlari kencang menuju rumah, sandalku terlepas karena kencangnya aku berlari. Ternyata mereka mendapatiku di rumah. “Ini dia”, sahut temannya. Kami berdua di loteng rumahku. Anehnya suasana loteng rumahku seperti hutan saga di kampusku. Sambil terengah-engah kutanyakan,”Apa yang mau kau katakan?”. “Tunggu, mataharinya belum terbit”, balasnya. Akupun terbangun. Pria itu tidak menyatakan apa yang hendak dikatakannya karena menunggu sang matahari terbit.
          Sekarang sudah 2018 dan aku masih mengingat mimpi itu, bahkan kedua pria yang ada di mimpiku itu. Aku heran dan ragu, apa memang diakah teman hidupku? Karena nyatanya aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Lama sekali, sekarang jalan 3 tahun kami tidak berkomunikasi. Meski demikian, setiap kali aku melihat matahari baru terbit, aku akan teringat mimpi itu dan tersenyum. Siapakah dirimu, Pangeran? Apa di waktu yang sama juga engkau memimpikan hal itu?
         






Telah lama kutunggu
Kunanti-nantikan kehadiranmu
Tapi tak ada sedikitpun tanda kehadiranmu
Aku merasa asaku melaju lambat
Perjalanan hidupku semakin berat saja
Aku merasa sendirian berjuang di sini
Aku butuh kehadiranmu, aku ingin kau di sini
Tapi, tak kunjung engkau datang
Memang benar, tanpamu aku bisa menyelesaikannya
Tanpamu aku masih bisa berjalan
Semua masih bisa kulakukan memang, tapi
Semakin lama semakin sakit saja semua rasa ini
Mengapa tak kunjung datang?
Kuhela nafas panjang, aku harus berpikir jernih
Kuharap engkau akan datang di saat yang tepat
Jangan terlambat, jangan