Senin, 20 Agustus 2018

AYO…. SEMUA ITU DARI KITA, UNTUK KITA, OLEH KITA


Sudah 2 minggu ini saya melihat para polisi sigap mengawasi lalu lintas agar tetap lancar dan berlangsung baik. Kegerakan mereka sungguh terbukti. Saya mengamati bahwa sepanjang jalan Kecamatan Medan Baru setiap pagi selalu ada polisi setiap 40-50 meter sepanjang jalan. Alhasil, kemacetan berkurang, bahkan orang-orang yang hobi mengendarai lawan arah pun nyaris tidak ada. Dalam hati saya berdecak kagum. Wahh…

Namun di tempat lain (Medan Amplas) saya melihat terjadi pemungutan liar. Saya pun sedih seketika. Kemudian, beberapa hari yang lalu ketika saya berada di bus terjadi kemacetan dikarenakan hujan deras baru saja terjadi. Banjir pun tak bisa dielakkan mengakibatkan jalan raya terlihat tenggelam air. Ada beberapa polisi mengatur para pengendara agar kemacetan tidak berlangsung lama. Saya melihat seorang polisi memberhentikan pengendara motor (pria) yang memang mempunyai kesalahan, seorang wanita yang diboncengnya tidak mengenakan helm. Segera si pria itu meminta wanita yang sedang menggendong tas memberikan tasnya. Saya bisa menerka apa yang akan dilakukannya.

Kemudian terlintas ide dalam pemikiran saya yaitu bukankah kitalah yang membuat mereka (polisi) melakukan pemungutan liar? Kita (masyarakat) juga berperan membuat para polisi KKN.
Saya pernah mendengar cerita dari seorang polisi mengenai pengalamannya ketika melakukan razia di jalan. Sungguh tidak tega bapak polisi itu menahan si ibu yang naik bettor dengan ketiga anaknya dan tidak seorang pun memakai helm bahkan surat-surat pun tidak ada yang lengkap. Apalagi si ibu mengatakan bahwa dia adalah seorang janda yang untuk makan sekali sehari pun sudah syukur. Si ibu minta tolong kepada pak polisi itu.
Akhirnya si ibu dibebaskan hanya dengan memberi uang rokok. Memang jika dibawa ke hukum yang harus dibayar ibu itu tidak sebanding dengan uang rokok. Tentunya lebih besar.
Bukankah ibu itu juga memengaruhi pak polisi untuk melakukan KKN?

Seandainya semua masyarakat taat aturan, tentunya tidak ada celah yang menggoda, bukan?
Apalagi ini merupakan kewajiban kita untuk melengkapi administrasi dan menggunakan alat pelindung diri ketika mengendarai kendaraan. Kita tidak bisa menuntut terus-menerus pemerintah untuk tegas, sementara kita sendiri pun tidak tegas. Kita sendiri pun masih sering menerobos lampu merah, masih sering tidak bayar pajak. Bukankah kita yang adalah masyarakat pemegang kekuasaan tertinggi. Ini terbukti dari pernyataan John Locke bahwa “Dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat”.

Maka dari itu, alangkah eloknya kita pun turut mendorong program pemerintah dengan cara melakukan kewajiban kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar