Kamis, 25 Mei 2023

Belajar Produktif Di Masa Sukar dari 3 Insan Kreatif Ini

 

Belajar Produktif Di Masa Sukar dari 3 Insan Kreatif Ini

Oleh Tetty Petty Sinaga

MASA sukar ini cenderung membuat orang terpuruk. Tetapi tidak dengan tiga anak muda ini. Mereka justru menjulang menjadi sosok inspiratif yang produktif berkarya meski di tengah pandemi Covid-19.

Ketiga insan inspirator ini bukanlah tokoh terkenal, bukan selebritis, bukan politisi atau kaum priyayi. Mereka tidak pula berasal dari kota metropolitan. Mereka hanya anak desa yang percaya bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri.

Jangan pernah pandang sebelah mata perubahan yang mereka retas, apalagi membandingkannya dengan para tokoh-tokoh besar bangsa. Jangan. Tetapi mereka adalah perwujudan dari pesan Bunda Terasa bahwa "Tidak semua kita bisa melakukan hal-hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar."

Insan pertama, Pandu Simarmata, alumni Teknik Sipil, Institut Teknologi Medan lulusan 2020. Sejak awal Februari ia telah melamar kerja ke sejumlah jawatan, namun hingga Juni tak satupun perusahaan memanggilnya. Belum lagi, karena pembatasan jarak mengikuti protokol kesehatan, membuat ruang gerak Pandu terbatas dalam mencari lapangan kerja.

Mengatasi kebuntuan pikirannya, Pandu memanfaatkan waktunya selama pandemi ini untuk membantu orangtuanya bertani di ladang. Ia kini mulai menggeluti budidaya tanaman jahe di ladang orangtuanya. Selain mencari informasi mengenai jahe dari internet, ia juga aktif bertanya kepada teman-temannya yang berpengalaman bertani jahe.

 

Tak lupa, Pandu juga semakin giat mendalami disiplin ilmunya, Teknik Sipil. Setelah selesai membereskan ladang, ia belajar AutoCAD, program untuk menggambar serta merancang gambar dua dan 3 dimensi. Aplikasi AutoCAD merupakan keterampilan khusus bagi seorang insinyur. Dia optimis memperlengkapi dirinya dengan mendalami aplikasi ini agar ketika kesempatan melamar pekerjaan datang dia bisa berpeluang besar.

“Sangat sulit memahami aplikasi ini. Sarana terbatas, pengetahuan terbatas, tidak ada kawan sharing di tempat ini, buku juga kurang lengkap. Syukurnya ada internet yang bisa diandalkan meski sinyalnya kurang bagus. Saya belajar otodidak dan niat kuat," jelasnya.

Semenjak wabah melanda, Pandu juga mengaku lebih menjaga kesehatan pribadinya. Ada kebiasaan baru yang dilakukannya, seperti selalu cuci tangan sebelum ke tempat ramai, masker dikenakannya ketika keluar rumah, bahkan ketika belanja ke sebuah minimarket dirinya akan menggunakan siku tangannya ketika membuka atau menutup pintu. Dia menyatakan, dirinya semakin produktif meski wabah membatasi ruang geraknya.

Insan kedua, Santi Sihombing, seorang guru private bahasa Inggris di Siantar. Ia memiliki 12 murid yang senantiasa diajarinya setiap hari. Gara-gara wabah jumlah muridnya berkurang dan tersisa hanya 5 orang. Wabah membuat banyak orang tua memutuskan untuk mengurungkan anak-anak mereka less privat.

Sebelum pandemi, Santi biasanya mengajar dimulai dari pukul 15.00 – 21.00. Namun sejak pandemi, Santi mengalami jadwal mengajar yang tidak terkendali berhubung para orangtua minta jadwal private anaknya menjadi pukul 16.00 dan tidak sampai malam. Ia pun semakin bersemangat melakukan protokol kesehatan semenjak pandemi ini. “Semakin memahami pentingnya hidup bersih dan sehat, bahkan jadi risih keluar rumah bila tidak kenakan masker,” ujarnya.

Metode pembelajaran private yang sudah lama digelutinya ini pun mengalami perubahan semenjak corona menghampiri. Awalnya Santi terbantu dari materi sekolah yang sudah terstruktur dibahas di sekolah, dan materi tersebut lebih diperdalam dalam les private. Berhubung sekolah daring, muridnya mempunyai banyak pekerjaan rumah (PR) dari sekolah.

Hal ini membuat metode private siswanya menjadi kebanyakan menyelesaikan PR siswa ketika corona 3 bulan ini. Apalagi ada kemungkinan daring sampai akhir tahun, Santi semakin semangat mempersiapkan metode baru yang lebih menjawab tantangannya mengajar private ini.

Santi juga memaksa dirinya untuk belajar pelajaran lain agar bisa mencontohkannya dengan pelajaran siswanya dan mengupgrade dirinya selaku pengajar. “Corona mengajarkanku banyak hal baru”, ungkapnya sambil tertawa optimis.

Insan Ketiga, Guru ABK. Seorang guru anak berkebutuhan khusus (ABK), Rijen Hutabalian menggiatkan kebiasaannya menulis blog selama masa corona ini. Rijen mengaku bahwasanya kebiasaan menulisnya semakin bertambah karen corona ini. Ia meniatkan sekali seminggu tulisannya terpublish di blog dan dibaikan di story instagram.

Bahkan ia tidak sekadar menulis tapi juga mempodcastkannya. Tulisannya bukan sekadar dibaca namun juga banyak diperdengarkan orang lain. Rijen tidak ingin mengisi kekosongan kegiatan mengajarnya dengan banyak rebahan berhubung sekolah daring. Apalagi siswanya adalah ABK yang memiliki keterbatasan kemampuan berpikir maupun bersosialisasi, dirinya pun aktif mengikuti webinar khususnya teleterapi yang didapatnya.

Hasil webinar yang diperolehnya kemudian diseleksi untuk bisa ditetapkan kepada siswanya. Inisiatif mengupgrade dirinya semakin bertambah di tengah meningkatnya kasus corona. Meski semakin banyak yang terkena corona, dirinya bukan semakin khawatir malah semakin memperlengkapi dirinya untuk mendapatkan solusi mengajar anak ABK tahun ajaran baru di bulan depan.

Produktif tidak selamanya mengenai untung dan uang. Seseorang layak dinyatakan produktif karena memberi hasil, ada manfaat yang diperoleh dari usahanya. Meski mengalami masa sukar saat ini, bukan berarti kita tidak bisa berbuat produktif. Tidak harus hal besar ataupun menghasilkan uang banyak. Hal sederhana seperti ketiga insan inspirator di atas sudah termasuk produktif, dan kita bisa contoh semangat produktif mereka.

Munculnya ide-ide baru yang inovatif dan kreatif bukanlah suatu hal mustahil untuk saat ini, justru sangat mungkin, bahkan harus. Seperti tiga insan tangguh di atas, meski berdiam di rumah, mereka tetap berusaha produktif. Mereka sadar, daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Pandu, Santi dan Rijen, tiga contoh nyata yang bisa kita teladani. (*)

Penulis adalah alumni FKM USU, bergiat di Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar