Belajar Produktif Di Masa Sukar dari
3 Insan Kreatif Ini
Oleh Tetty Petty Sinaga
MASA sukar ini cenderung membuat
orang terpuruk. Tetapi tidak dengan tiga anak muda ini. Mereka justru menjulang
menjadi sosok inspiratif yang produktif berkarya meski di tengah pandemi
Covid-19.
Ketiga insan inspirator ini bukanlah
tokoh terkenal, bukan selebritis, bukan politisi atau kaum priyayi. Mereka
tidak pula berasal dari kota metropolitan. Mereka hanya anak desa yang percaya
bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri.
Jangan pernah pandang sebelah mata
perubahan yang mereka retas, apalagi membandingkannya dengan para tokoh-tokoh
besar bangsa. Jangan. Tetapi mereka adalah perwujudan dari pesan Bunda Terasa
bahwa "Tidak semua kita bisa melakukan hal-hal besar, tetapi kita bisa
melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar."
Insan pertama, Pandu Simarmata,
alumni Teknik Sipil, Institut Teknologi Medan lulusan 2020. Sejak awal Februari
ia telah melamar kerja ke sejumlah jawatan, namun hingga Juni tak satupun
perusahaan memanggilnya. Belum lagi, karena pembatasan jarak mengikuti protokol
kesehatan, membuat ruang gerak Pandu terbatas dalam mencari lapangan kerja.
Mengatasi kebuntuan pikirannya,
Pandu memanfaatkan waktunya selama pandemi ini untuk membantu orangtuanya bertani
di ladang. Ia kini mulai menggeluti budidaya tanaman jahe di ladang
orangtuanya. Selain mencari informasi mengenai jahe dari internet, ia juga
aktif bertanya kepada teman-temannya yang berpengalaman bertani jahe.
Tak lupa, Pandu juga semakin giat mendalami
disiplin ilmunya, Teknik Sipil. Setelah selesai membereskan ladang, ia belajar
AutoCAD, program untuk menggambar serta merancang gambar dua dan 3 dimensi.
Aplikasi AutoCAD merupakan keterampilan khusus bagi seorang insinyur. Dia
optimis memperlengkapi dirinya dengan mendalami aplikasi ini agar ketika
kesempatan melamar pekerjaan datang dia bisa berpeluang besar.
“Sangat sulit memahami aplikasi ini.
Sarana terbatas, pengetahuan terbatas, tidak ada kawan sharing di tempat ini,
buku juga kurang lengkap. Syukurnya ada internet yang bisa diandalkan meski
sinyalnya kurang bagus. Saya belajar otodidak dan niat kuat," jelasnya.
Semenjak wabah melanda, Pandu juga
mengaku lebih menjaga kesehatan pribadinya. Ada kebiasaan baru yang
dilakukannya, seperti selalu cuci tangan sebelum ke tempat ramai, masker
dikenakannya ketika keluar rumah, bahkan ketika belanja ke sebuah minimarket
dirinya akan menggunakan siku tangannya ketika membuka atau menutup pintu. Dia
menyatakan, dirinya semakin produktif meski wabah membatasi ruang geraknya.
Insan kedua, Santi Sihombing,
seorang guru private bahasa Inggris di Siantar. Ia memiliki 12 murid yang
senantiasa diajarinya setiap hari. Gara-gara wabah jumlah muridnya berkurang
dan tersisa hanya 5 orang. Wabah membuat banyak orang tua memutuskan untuk
mengurungkan anak-anak mereka less privat.
Sebelum pandemi, Santi biasanya
mengajar dimulai dari pukul 15.00 – 21.00. Namun sejak pandemi, Santi mengalami
jadwal mengajar yang tidak terkendali berhubung para orangtua minta jadwal private
anaknya menjadi pukul 16.00 dan tidak sampai malam. Ia pun semakin bersemangat
melakukan protokol kesehatan semenjak pandemi ini. “Semakin memahami pentingnya
hidup bersih dan sehat, bahkan jadi risih keluar rumah bila tidak kenakan
masker,” ujarnya.
Metode pembelajaran private yang
sudah lama digelutinya ini pun mengalami perubahan semenjak corona menghampiri.
Awalnya Santi terbantu dari materi sekolah yang sudah terstruktur dibahas di
sekolah, dan materi tersebut lebih diperdalam dalam les private. Berhubung
sekolah daring, muridnya mempunyai banyak pekerjaan rumah (PR) dari sekolah.
Hal ini membuat metode private
siswanya menjadi kebanyakan menyelesaikan PR siswa ketika corona 3 bulan ini.
Apalagi ada kemungkinan daring sampai akhir tahun, Santi semakin semangat
mempersiapkan metode baru yang lebih menjawab tantangannya mengajar private
ini.
Santi juga memaksa dirinya untuk
belajar pelajaran lain agar bisa mencontohkannya dengan pelajaran siswanya dan
mengupgrade dirinya selaku pengajar. “Corona mengajarkanku banyak hal baru”,
ungkapnya sambil tertawa optimis.
Insan Ketiga, Guru ABK. Seorang guru
anak berkebutuhan khusus (ABK), Rijen Hutabalian menggiatkan kebiasaannya
menulis blog selama masa corona ini. Rijen mengaku bahwasanya kebiasaan
menulisnya semakin bertambah karen corona ini. Ia meniatkan sekali seminggu
tulisannya terpublish di blog dan dibaikan di story instagram.
Bahkan ia tidak sekadar menulis tapi
juga mempodcastkannya. Tulisannya bukan sekadar dibaca namun juga banyak
diperdengarkan orang lain. Rijen tidak ingin mengisi kekosongan kegiatan
mengajarnya dengan banyak rebahan berhubung sekolah daring. Apalagi siswanya
adalah ABK yang memiliki keterbatasan kemampuan berpikir maupun bersosialisasi,
dirinya pun aktif mengikuti webinar khususnya teleterapi yang didapatnya.
Hasil webinar yang diperolehnya
kemudian diseleksi untuk bisa ditetapkan kepada siswanya. Inisiatif mengupgrade
dirinya semakin bertambah di tengah meningkatnya kasus corona. Meski semakin
banyak yang terkena corona, dirinya bukan semakin khawatir malah semakin
memperlengkapi dirinya untuk mendapatkan solusi mengajar anak ABK tahun ajaran
baru di bulan depan.
Produktif tidak selamanya mengenai
untung dan uang. Seseorang layak dinyatakan produktif karena memberi hasil, ada
manfaat yang diperoleh dari usahanya. Meski mengalami masa sukar saat ini,
bukan berarti kita tidak bisa berbuat produktif. Tidak harus hal besar ataupun
menghasilkan uang banyak. Hal sederhana seperti ketiga insan inspirator di atas
sudah termasuk produktif, dan kita bisa contoh semangat produktif mereka.
Munculnya ide-ide baru yang inovatif
dan kreatif bukanlah suatu hal mustahil untuk saat ini, justru sangat mungkin,
bahkan harus. Seperti tiga insan tangguh di atas, meski berdiam di rumah,
mereka tetap berusaha produktif. Mereka sadar, daripada mengeluhkan kegelapan,
lebih baik menyalakan lilin. Pandu, Santi dan Rijen, tiga contoh nyata yang
bisa kita teladani. (*)
Penulis adalah alumni FKM USU,
bergiat di Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar