Penyakit
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit TB
bila tidak diobati secara tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga
kematian. Penduduk terserang TB Paru diperkirakan terdapat 8 juta penduduk
dengan jumlah 3 juta per tahun dan 95% penderitanya berada di negara – negara
berkembang (WHO, 1993). Jumlah penemuan
kasus penyakit TB paru di Indonesia pada tahun 2014 adalah 252.124.458 orang
(Profil Kesehatan Indonesia, 2014). Ini bukanlah angka yang rendah, bahkan
memprihatinkan karena menjadi problema kesehatan di seluruh dunia. TB paru juga
merupakan penyebab kematian utama yang diakibatkan oleh penyakit infeksi.
Tingginya
jumlah penderita TB paru disebabkan oleh peluang peningkatan paparan yang
tinggi terkait dengan jumlah kasus menular di masyarakat yang rentan. Kondisi
perumahan yang semakin padat dan kurang sehat juga memudahkan kedekatan kontak
dengan sumber penularan melalui tingkat daya tular dahak. Uniknya bakteri TB
ini karena memiliki sifat dormant (tidur) yang suatu saat dapat aktif dalam
tubuh di saat kondisi tubuh tidak sehat. Penyebaran TB paru melalui aliran
darah atau getah bening dapat menyebabkan terjadinya TB paru di luar organ
paru. Apabila penyebaran yang terjadi
melalui aliran darah atau getah bening dapat menyebabkan terjadiny TB di luar
organ paru.
Ada
tiga hal yang dapat semakin membahayakan bagi penderita TB paru yaitu : akibat
dari keterlambatan diagnosis, pengobatan yang tidak adekuat dan adanya kondisi
kesehatan awal yang buruk atau penyakit penyerta. Fenomena yang sering terjadi
di masyarakat adalah ketidakpatuhan minum obat. Berbagai
teori tentang kepatuhan berobat dan usaha agar berperilaku patuh berobat
dikemukakan beberapa penulis, antara lain:
1)
Kepatuhan berobat sangat dipengaruhi oleh perilaku penderita;
2)
Cara terbaik mengubah perilaku adalah dengan memberikan informasi serta diskusi
dan partisipasi dari penderita.
3)
Agar perilaku penderita lebih patuh dibutuhkan memperkuat driving force dengan menggalakkan
persuasi dan memberi informasi (teori Force
field Analysis dari Lewis).
Sebagai seorang
mahasiswa kesehatan masyarakat maka peran yang harus dilakukan beranjak dari
tiga hal ini. Terjadinya keterlambatan diagnosis dan adanya kondisi kesehatan
awal yang buruk atau penyakit penyerta sering dialami penderita karena
ketidaktahuan dampak bahaya penyakit maupun anggapan sembuh sendiri. Maka
sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat harus aktif melakukan promosi kesehatan
melalui beragam sosial media, pendekatan pribadi kepada masyarakat. Pembuatan
status di sosial media menambah pengetahuan masyarakat sehingga membuat
masyarakat memperbincangkannya di lingkungan. Kejadian ini pernah dilakukan masyarakat
tentang kanker otak yang dialami alm. Olga Syahputera.
Pemerintah
telah menyediakan dana pengobatan secara gratis kepada penderita TB paru. Sayangnya,
penderita tidak melakukan saran pengobatan karena belum memahami pentingnya.
Maka mahasiswa kesehatan masyarakat boleh bekerja sama dengan puskesmas untuk
membantu pemantauan pengobatan penderita TB paru. Selain dapat meringankan
kerja petugas, hal ini merupakan aplikasi yang menambah pengalaman mahasiswa
untuk semakin dekat dan mengenal kondisi di masyarakat.
Pelaksanaan peran
mahasiswa kesehatan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Padatnya jadwal kuliah
dan banyaknya aktivitas tentunya menantang mahasiswa kesehatan masyarakat untuk
berperan pada kasus TB paru. Seperti halnya pelaksanaan pos pembinaan terpadu
yang dilakukan oleh dinas kesehatan, maka akan lebih memikat mahasiswa untuk
peran. Selain itu memang dibutuhkan kesadaran pribadi untuk berperan aktif. Seperti
yang telah disampaikan Abraham Lincoln : “Dari kita, untuk kita dan oleh kita”,
begitulah mahasiswa kesehatan masyarakat turut berperan untuk mencegah
penularan TB paru karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam sehat.
Referensi :
Hutapea,
Tahan. Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti
Tuberkulosis
Jurnal
Tuberkulosis Indonesia, Oktober 2010
Profil kesehatan
Indonesia 2014
Tetty
Petty Sinaga
FKM USU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar