Sabtu, 06 Mei 2023

PERAN MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT USU PADA KASUS TB PARU INDONESIA

 


            Penyakit Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit TB bila tidak diobati secara tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian. Penduduk terserang TB Paru diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dengan jumlah 3 juta per tahun dan 95% penderitanya berada di negara – negara berkembang (WHO, 1993).  Jumlah penemuan kasus penyakit TB paru di Indonesia pada tahun 2014 adalah 252.124.458 orang (Profil Kesehatan Indonesia, 2014). Ini bukanlah angka yang rendah, bahkan memprihatinkan karena menjadi problema kesehatan di seluruh dunia. TB paru juga merupakan penyebab kematian utama yang diakibatkan oleh penyakit infeksi.

            Tingginya jumlah penderita TB paru disebabkan oleh peluang peningkatan paparan yang tinggi terkait dengan jumlah kasus menular di masyarakat yang rentan. Kondisi perumahan yang semakin padat dan kurang sehat juga memudahkan kedekatan kontak dengan sumber penularan melalui tingkat daya tular dahak. Uniknya bakteri TB ini karena memiliki sifat dormant (tidur) yang suatu saat dapat aktif dalam tubuh di saat kondisi tubuh tidak sehat. Penyebaran TB paru melalui aliran darah atau getah bening dapat menyebabkan terjadinya TB paru di luar organ paru. Apabila  penyebaran yang terjadi melalui aliran darah atau getah bening dapat menyebabkan terjadiny TB di luar organ paru.

            Ada tiga hal yang dapat semakin membahayakan bagi penderita TB paru yaitu : akibat dari keterlambatan diagnosis, pengobatan yang tidak adekuat dan adanya kondisi kesehatan awal yang buruk atau penyakit penyerta. Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah ketidakpatuhan minum obat. Berbagai teori tentang kepatuhan berobat dan usaha agar berperilaku patuh berobat dikemukakan beberapa penulis, antara lain:

1) Kepatuhan berobat sangat dipengaruhi oleh perilaku penderita;

2) Cara terbaik mengubah perilaku adalah dengan memberikan informasi serta diskusi dan  partisipasi dari penderita.

3) Agar perilaku penderita lebih patuh dibutuhkan memperkuat driving force dengan menggalakkan persuasi dan memberi informasi (teori Force field Analysis dari Lewis).

Sebagai seorang mahasiswa kesehatan masyarakat maka peran yang harus dilakukan beranjak dari tiga hal ini. Terjadinya keterlambatan diagnosis dan adanya kondisi kesehatan awal yang buruk atau penyakit penyerta sering dialami penderita karena ketidaktahuan dampak bahaya penyakit maupun anggapan sembuh sendiri. Maka sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat harus aktif melakukan promosi kesehatan melalui beragam sosial media, pendekatan pribadi kepada masyarakat. Pembuatan status di sosial media menambah pengetahuan masyarakat sehingga membuat masyarakat memperbincangkannya di lingkungan. Kejadian ini pernah dilakukan masyarakat tentang kanker otak yang dialami alm. Olga Syahputera.

            Pemerintah telah menyediakan dana pengobatan secara gratis kepada penderita TB paru. Sayangnya, penderita tidak melakukan saran pengobatan karena belum memahami pentingnya. Maka mahasiswa kesehatan masyarakat boleh bekerja sama dengan puskesmas untuk membantu pemantauan pengobatan penderita TB paru. Selain dapat meringankan kerja petugas, hal ini merupakan aplikasi yang menambah pengalaman mahasiswa untuk semakin dekat dan mengenal kondisi di masyarakat. 

Pelaksanaan peran mahasiswa kesehatan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Padatnya jadwal kuliah dan banyaknya aktivitas tentunya menantang mahasiswa kesehatan masyarakat untuk berperan pada kasus TB paru. Seperti halnya pelaksanaan pos pembinaan terpadu yang dilakukan oleh dinas kesehatan, maka akan lebih memikat mahasiswa untuk peran. Selain itu memang dibutuhkan kesadaran pribadi untuk berperan aktif. Seperti yang telah disampaikan Abraham Lincoln : “Dari kita, untuk kita dan oleh kita”, begitulah mahasiswa kesehatan masyarakat turut berperan untuk mencegah penularan TB paru karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam sehat.

Referensi :

Hutapea, Tahan. Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis

Jurnal Tuberkulosis Indonesia, Oktober 2010

Profil kesehatan Indonesia 2014

                                                                                                              Tetty Petty Sinaga

FKM USU

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar